Dokter Wenny: "Saya Cinta Banget NTB"

Mengenal Lebih Dekat Dokter yang Mengabdikan Hidup dan Karyanya untuk NTB

Mataram (SN)-Rakyat Nusa Tenggara Barat (NTB) umumnya dan jajaran kesehatan  khususnya baik di tingkat Provinsi NTB hingga ke pelosok desa di NTB pasti mengenal sosok perempuan  bernama lengkap Emerentiana Yovita Wenny Astuti Achwan (E.Y. Wenny Astuti Achwan). Publik di NTB lebih mengenalnya dengan panggilan Dokter Wenny.

Perempuan paruh baya ini menghabiskan hidup dan karyanya sebagai dokter di NTB. Perempuan yang aktif di berbagai organisasi sosial baik lokal, nasional dan internasional ini memilih Bumi Gora untuk mengabdikan hidup dan ilmunya bukan tanpa alasan. Sejak diangkat menjadi dokter INPRES di era Presiden Soeharto tahun 1988, dirinya tidak ingin kembali ke daerah asalnya atau berpindah tugas ke daerah lain. "Sejak pertama kali bertugas di NTB sampai saat ini, belum pernah ada rasa menyesal sedikitpun dan belum pernah ada keinginan untuk berpindah tugas ke daerah lain, walaupun sempat mengalami kejadian yang cukup mengecewakan.

yang mengecewakan. Pernah suatu saat ada kerusuhan besar-besaran di Lombok, NTB. Saya yang beberapa tahun sempat menjadi dokter relawan di klinik AURI Selaparang, Rembiga dan keluarga berhasil dievakuasi dengan melalui helikopter pesawat Hercules milik TNI-AD ke Malang.  Namun setelah kondisi normal, saya akhirnya balik lagi ke NTB dan aman sampai sekarang," ujar perempuan wanita lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini.

Pada kerusuhan di Lombok pada tahun 2000 itu Dr. Wenny juga harus menyelesaikan program studi dan penelitiannya di Jepang serta menyusun thesis Program Studi Pasca Sarjana (S2) Ilmu Kedokteran Tropis, di Universitas Gadjah Mada. “Sengsara membawa nikmat!” ujar Dr. Wenny yang pada akhirnya berhasil menyelesaikan program studi Magister Kesehatan Bidang Studi Imunologi dan Biologi Molekuler Penyakit Tropis dengan predikat cum laude di Universitas Negeri terkemuka di Yogyakarta tersebut.

Kiprah Dokter Wenny selama berkarya di NTB sungguh luar biasa. Karirnya baik sebagai PNS di Rumah Sakit Rujukan NTB maupun di berbagai organisasi profesi dan sosial lainnya selalu berjalan mulus. Itulah sebabnya dirinya menganggap bahwa Tanah Bumi Gora telah membawanya menjadi besar dalam segala hal baik di bidang keahlian bersama seniornya almarhum Prof. DR. Dr. Soewignjo Soemohardjo, SpPD-KGEH dalam beragam organisasi profesional perhimpunan dokter spesialis seminat di bidang penyakit hati dan saluran pencernaan, penyakit tropis dan infeksi, serta karya sosial lainnya yang mampu membawanya sampai ke kancah internasional. "Saya cinta banget sama NTB. Saya akan telah menghabiskan lebih dari separuh hidup dan karya saya di NTB," ujarnya.

Dalam karirnya sebagai dokter, Wenny terbilang sangat cepat dan gemilang. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, atas anjuran Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia saat itu, para dokter yang baru lulus diminta diwajibkan jadi Dokter INPRES dan boleh memilih untuk ditempatkan di berbagai daerah terpencil. Kepada Wenny diberikan dua pilihan yakni NTB atau NTT. "Waktu itu saya pilih NTB. Itu bukan berarti NTT itu buruk. Pilihan NTB karena alasannya kalau mau pulang kampung ke Jawa biar lebih mudah, dapat melalui darat, laut maupun udara. Atau kalau ada keluarga dan orang tua mau berkunjung juga biar cepat karena waktu itu saya masih sebagai dokter muda," ujarnya. Rupanya, pilihan NTB itu sudah takdir. Dokter Wenny ternyata sampai kini tidak bisa pulang dan sudah menjadi warga NTB sejak lama. Sebagai dokter muda, baru tiga hari bertugas di NTB, dan masih dalam masa orientasi, namun karena kinerja, pelayanan, prestasi dan sebagainya, Dokter Wenny yang  juga sempat menjadi mahasiswa teladan saat masih menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya ini langsung diminta oleh Direktur RS untuk ditempatkan di RSUD Provinsi NTB (dulu RSU Mataram) di Kota Mataram.

Dr. Muharso, SKM., pada saat itu menjabat sebagai Kakanwil Kesehatan Provinsi NTB, yang membuat Surat Penempatan tugas sebagai dokter untuk dipekerjakan di RSU Mataram. Sejak saat itulah karirnya melejit. Namun menariknya, Wenny tidak pernah berada di posisi struktural yang berurusan dengan berbagai persoalan birokrasi. "Saya saat itu mau fokus dengan keahlian saya sebagai dokter fungsional dan peneliti. Selain itu saya tidak mau disibukkan oleh berbagai persoalan birokrasi.  Saya mau tidur nyenyak," guraunya.

Selama berkarir di NTB  kurang lebih 30 tahun, Dokter Wenny sudah banyak menghasilkan karya ilmiah di bidang kedokteran. Perempuan  asal Tulungagung yang lahir di Kediri dan tumbuh dewasa di Surabaya Jawa Timur ini telah melakukan banyak penelitian, menjadi pembicara seminar ilmiah di dalam maupun luar negeri, konsultan peneliti, klinisi, dan banyak karya ilmiah lainnya. Dr. Wenny juga menjadi Tim Panel Ahli Kementerian Kesehatan RI yang menggagas program kesehatan nasional di bidang HIV-AIDS, IMS (Infeksi Menural Seksual) dan NAPZA. Bersama Tim Peneliti Hepatitis NTB, secara khusus pernah melakukan Imunisasi Hepatitis B masal di Pulau Lombok dan beberapa wilayah di NTB yang hasilnya diadopsi Departemen Kesehatan RI untuk dilakukan di provinsi lainnya di Indonesia, sehingga akhirnya pada tahun 1997 Imunisasi Hepatitis B menjadi Program Imunisasi Terpadu (Expanded Programme of Immunization).

Dr. Wenny, peneliti perempuan yang pemberani dan berjiwa petualang ini ternyata sempat pula memimpin beberapa  ekspedisi penelitian Hepatitis di Indonesia, antara lain di Tahuna, Kepulauan Sangihe Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Beberapa penelitian ilmiah yang menjadi rujukan banyak dokter yang fenomenal antara lain bidang hepatitis, kanker, malaria, HIV, Helicobacter pylori, vaksinasi dan sebagainya. Berbagai penelitian ini telah dipublikasikan sebagai karya ilmiah yang diterbitkan dalam beragam jurnal ilmiah internasional. Sn02

 

Leave a reply