ORARI Informasi Gunung Agung Di-Ngejem Oknum Tak Bertanggungjawab

Kiri I Nyoman Eka Semara Putra

Denpasar (SN)-Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) yang selama ini melayani informasi tentang Gunung Agung diganggu frekwensi oleh oknum tak dikenal yang tidak bertanggung. Hal ini disampaikan oleh Net Control Session (NCS) atau operator ORARI         I Nyoman Eka Semara Putra mengatakan, sudah dua hari ORARI yang mengudara melalui frekwensi 146.800 ini tidak bisa menangkap sinyal siaran dengan baik. "Dari bunyi yang ditangkap, bisa dipastikan jika frekwensi 146.800 itu diisengi, di-ngejem orang tak dikenal. Akibatnya, saya sebagai operator tidak bisa memberikan informasi kepada masyarakat yang ada di 28 desa di lereng Gunung Agung. Kondisi ini sangat berbahaya, dimana masyarakat yang ada di 28 desa di lereng Gunung Agung sangat membutuhkan informasi tentang Gunung Agung, sebagaimana yang dilakukan selama ini," ujarnya di Denpasar

Menurutnya, kondisi ini terjadi sejak Senin malam tanggal 2 Juli lalu. Saat itu ORARI Pasubayan Gunung Agung itu masih normal beroperasi seperti biasa. Namun di saat Gunung Agung lagi dalam kondisi sangat berbahaya, dimana saat ini Gunung Agung mengeluarkan lava pijar, sampai terbakar di beberapa sisi, ORARI yang sedang menyampaikan banyak informasi kepada masyarakat tersebut, justeri frekuensinya diganggu atau dingejam oleh orang tak dikenal. "Saat itu kami lagi menjelaskan kepada masyarakat di beberapa titik tentang kondisi terkini Gunung Agung, termasuk menghimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi frekuensinya tiba-tiba terganggu dan sampai saat ini belum bisa beroperasi dengan baik. Padahal, masyarakat sangat membutuhkan informasi tentang Gunung Agung untuk keselamatan diri dan kepentingan evakuasi," ujarnya.

Selaku operator atau NCS, Semara Putra meminta agar pihak-pihak yang mengganggu frekwensi 146,800 agar tidak lagi merusaknya atau mengganggunya. "Ini demi keselamatan ribuan nyawa yang ada di 28 desa di lereng Gunung Agung. Bagaimana mungkin di tengah situasi genting akibat letusan Gunung Agung, masih ada orang yang dengan sengaja dan tega merusak frekwensi tersebut," ujarnya. Posisi operator berada di Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Desa Duda Utara itu masuk dalam KRB 2 yang sangat rawan bencana bila Gunung Agung meletus. (Sn03)

Leave a reply