Media Australia tidak Membuat Panik Soal Gunung Agung

Denpasar (SNC)-Tim Crisis Center (TCC)yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata membenarkan bahwa saat ini berita soal Gunung Agung menjadi trend di Australia. Humas Bali Tourism Board (BTB) Dewa Byomantara membenarkan jika di Australian, topik Gunung Agung menjadi trend pemberitaan beberapa media. "Namun yang menjadi menarik adalah hasil kajian dan pengamatan TCC Kemenpar bahwa berita Gunung Agung di Australia sama sekali tidak membuat panik warga Australia baik yang ada di Australia maupun warga Australia yang sedang berada di Bali," ujarnya di Denpasar, Kamis (23/11). Ia mencontohkan, salah satu media besar di Australia yakni 9news.com.au memberitakan sekalipun asap mengepul dari kawah Gunung Agung, namun warga tidak perlu panik dan silahkan ikuti arahan pejabat yang berwenang. "Berita seperti ini sangat sejuk, dan tidak menakuti warga Australia saat berada di Bali," ujarnya.

Media-media Australia memang buru-buru memberitakan Gunung Agung meletus. Tidak dimungkiri lagi, turis Australia di Indonesia adalah yang terbanyak ke dua setelah Cina.

Media di Australia, seperti halnya media internasional terkemuka, cenderung menunggu jalannya peristiwa, sembari menguji keabsahan data, sebelum merilis berita. Australia tidak terbiasa dengan berita cepat ala media di Indonesia yang akrab dengan potongan-potongan peristiwa, mengambil keterangan satu narasumber, dan mer-running letusan Gunung Agung menjadi 20 judul dalam sehari.

"Oleh karena itu, tidaklah mengherankan, laman sekaliber Sydney Morning Herald baru merilis letusan Gunung Agung hampir tiga jam setelah peristiwa akurat terjadi. Sebagian dari cara mereka mendapatkan objek peristiwa ialah melalui kontributor, biro, maupun kiriman kantor berita," ujarnya.

Namun timing pemberitaan media Australia kali ini cukup menguntungkan sisi pariwisata Indonesia. Dari 17 berita utama media terpopuler, terkait penggunaan diksi erupsi, misalnya, publikasi Australia menerangkan dengan cukup jelas tentang jenis letusan freatik. Sangat disayangkan hal yang sama tidak dilakukan kebanyakan media Tanah Air, yang dengan serta merta menulis Meletus, Erupsi, tanpa menerangkan lebih mendalam. Secara umum, konten breaking news Gunung Agung yang ditulis media Australia meliputi kejadian letusan, waktu, tinggi semburan debu vulkanik, daerah yang menjadi zona bahaya, perkiraan dampak letusan terhadap kesehatan dan penerbangan, imbauan tidak panik, jumlah pengungsi, perkiraan kondisi berikutnya, dan kutipan-kutipan narasumber yang kompeten.

Selintas hal tersebut di atas juga dilakukan pers dalam negeri. Bedanya, media Australia memilih menunggu berjam-jam untuk memperoleh data yang komprehensif. Keuntungannya, pembaca publik Australia mendapatkan informasi lebih utuh, tidak terpotong-potong, sebab selalu ada kemungkinan pembaca menganggap kebenaran dari hanya satu informasi yang ia dapatkan.

Seluruh media di Negeri Kanguru bisa dibilang kompak menyampaikan, bahwa apa yang terjadi di Bali hanyalah berdampak pada satu titik kecil. Ini sudah masuk musim liburan, penuhi kebutuhan Anda. Tidak perlu takut selagi Anda tidak memanjat Gunung Agung atau menerabas zona bahaya yang ditetapkan PVMBG. Framing semacam ini tampaknya, menurut penglihatan TCC, diperkuat dengan sikap PVMBG yang urung meningkatkan status Gunung Agung ke level Awas. Bagaimanapun, yang menjadi perhatian kantor berita di Australia adalah potensi gangguan penerbangan. Mereka menulis, Bandara Ngurah Rai aman, Lombok International Airport aman, AirNav berlakukan pilot report untuk memantau secara lebih akurat. Dan aktivitas Gunung Agung kembali melemah pada Selasa malam.

"Akan tetapi, Sydney Morning Herald sebagai salah satu media paling terkemuka menurunkan artikel tentang kebijakan asuransi travel yang tidak menguntungkan wisatawan, dan bisa mempengaruhi mereka. Saya menuliskan intisari beritanya sebagai berikut:

Bandara internasional di Bali sampai sekarang masih beroperasi dan tidak menemukan alasan untuk ditutup, sebab jarak fasilitas ini dari daerah bencana sekitar 75 km. Namun tetap saja potensi gangguan penerbangan karena abu vulkanik itu tetap bisa terjadi sewaktu-waktu.

Maskapai Jetstar dan Virgin Australia memastikan armadanya terbang dari dan menuju Bali. Seluruhnya aman, tidak ada gangguan abu vulkanik. Namun Pemerintah telah merilis travel advisory untuk Gunung Agung, yang tidak saja mengimbau untuk tidak memasuki zona berbahaya, tapi juga memikirkan klaim ganti rugi perjalanan jika itu terjadi. Pemerintah memastikan, keputusan maskapai tetap terbang menjadi tanggung jawab masing-masing," ujarnya.

Masalahnya adalah, asuransi travel, baik itu Travel Insurance Direct maupun 1Cover Travel Insurance tidak menerima klaim berdasarkan kejadian kegunung apian maupun dampak dari abu vulkanik. Lagipula Travel Insurance Direct baru-baru ini mengumumkan, pembelian mulai tanggal 21 November tidak akan mendapatkan ganti rugi akibat dampak abu vulkanik. Sedangkan 1Cover Travel Insurance memberlakukan kebijakan yang sama mulai pembelian tanggal 22 November. Hal ini berarti, perjalanan Anda tidak dilindungi dalam hal pembatalan atau perubahan jadwal. (Snc03)

Leave a reply