Ternyata Ada Putra Daerah Pernah Berantas Premanisme di BIL

Lombok (SNC)- Bandara Internasional Lombol (BIL) yang saat ini megah mulia ternyata awalnya menyimpan sejumlah masalah krusial. Salah satunya adalah premanisme dan praktek transportasi liar. Dan yang lebih mengerikan adalah praktek tersebut dilakukan oleh penduduk asli. Untuk memberantas berbagai praktek tersebut, maka putra asli Lombok, NTB, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Korem 162/WB, Kolonel Czi Lalu Rudy Irham Srigede. Saat ini pria asal Lombok ini menjabat sebagai Irdam IX/Udayana. Kepada Senggiginews.com beberapa waktu lalu, putra mantan salah satu Wakil Gubernur NTB ini mengisahkan tentang berbagai upaya dan usahanya untuk memberantas praktek premanisme dan transportasi liar di BIL.

Menurutnya, BIL yang saat ini kelihatan mewah dan megah itu awal menyimpan sejumlah masalah. Sejak awal dibangun, BIL sudah menyimpan sejumlah masalah krusial. Awalnya, masyarakat menganggap jika bandara itu sebagai kesempatan dan peluang untuk praktek premanisme dan transportasi liar. Saat itu, dalam komplek bandara sendiri ada sekitar kurang lebih 80 travel gelap. "Bayangkan, kalau melihat ada TKI yang baru pulang dari luar negeri, para sopir travel gelap tersebut menganggapnya sebagai rezeki. Diantar beberapa meter saja, TKI diminta sampai Rp 700 ribu. Jadi TKI ini diperas mulai dari proses keberangkatan, selama di negeri orang, juga saat pulang ke kampung halamannya sendiri khusus di Lombok. Para sopir taksi liar tersebut bisa nekat kalau permintaanya tidak dipenuhi. Kalau pun mereka menggunakan travel atau taksi yang resmi, maka mobil tersebut akan dikejar dan dipalang di tengah jalan. Penumpang diminta turun untuk pindah ke mobil lain. Kalau tidak mau turun, penumpang harus membayar sejumlah uang," ujarnya. Kondisi ini sudah berlangsung lama sejak bandara tersebut dioperasional.

Persoalan lain adalah setelah di atas jam 12 malam, aktifitas bandara sudah tidak ada lagi. Namun para preman dan para sopir itu tetap berada di dalam bandara, di ruang tunggu kedatangan. Mereka menggunakan bandara untuk tempat duduk-duduk, minum-minum sampai mabuk. Jelang dinihari banyak pencurian terjadi. Mesin genset hilang, kursi atau bangku hilang, bandara menjadi kotor sekali dengan sisa-sisa makanan atau botol minuman. Kondisi ini sudah berlangsung sangat lama. Para preman dan sopir gelap itu menganggap jika bandara itu sebagai peluang bagi mereka untuk melakukan berbagai aksi kriminal lainnya.

Akibat aksi tersebut, manajemen operasional bandara menyerah. Pengamanan yang dilakukan oleh petugas terkait sia-sia. Hingga akhirnya pihak bandara meminta bantaun aparat TNI. "Sebagai Danrem di Lombok saat itu, saya mulai berpikir bahwa bandara itu ibarat teras rumah, beranda rumah untuk NTB secara keseluruhan, pintu masuk NTB. Ibaratnya sebuah rumah, kalau terasnya aman, berandanya aman, pintu masuknya aman, maka banyak orang akan senang datang. Sebaliknya, bila teras rumah banyak anjing menggonggong, maka orang tidak merasa aman. Orang tidak akan datang ke rumah tersebut. Karena pihak bandara meminta bantuan secara resmi ke TNI, maka saya merasa terpanggil untuk menciptakan beranda rumah NTB tersebut. Apalagi saya adalah asli NTB. Saya kuatir citra orang Lombok itu buruk karena ulah sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab tersebut. Strategi pengamanan pun dilakukan TNI," ujarnya.

Awalnya, Kolonel Srigede menurunkan pengamanan dari anggota Kodim Lombok Tengah. Situasi mulai berubah. Ada beberapa perlawanan dari kelompok preman. Hingga suatu kali, ada anggota TNI yang memang mantan petinju mendapat tugas jaga. Saat itu ada penumpang dirampok. Anggota datang mengamankan, malah diawan. "Kebetulan anggota mantan petinju. Terjadi perkelahian hebat. Kelompok preman ini dipukul babak belur oleh anggota yang mantan petinju tersebut. Akibatnya, ada laporan terhadap anggota ke Polisi Militer setempat. Saya bilang tidak apa-apa. Tapi saya ancam akan lapor balik pelaku pemukulan terhadap anggota TNI, karena dianggap melawan petugas yang sedang menjalankan tugas, dan anggota dilawan, padahal tidak menggunakan senjata," ujarnya. Kasus ini heboh. Perlawanan semakin kuat dari kalangan preman.

Selang beberapa lama kemudian, ada keributan di porter. "Ada porter yang dengan sewenang-wenang memeriksa dokumen TKI. Pertengkaran dan perlawanan terjadi. Sang TKI dipukul perutnya. Ini jadi masalah besar. Sang porter ditangkap dan dipukul anggota," ujarnya. Padahal, seorang porter tidak berhak memeriksa dokumen TKI. Karena perlawanan semakin kuat, maka pihaknya menurunkan anggota bersenjata. Ratusan anggota dari Batalyon 742 diturunkan untuk mengamankan BIL. Sejak itu perlawanan semakin sengit, namun anggota tidak bergeming. Bila ada perlawanan, maka akan ditembak untuk melumpuhkan.

Ternyata perlawanan sudah berjaring. Banyak LSM bersuara, politisi bersuara, bahkan ada anggota TNI, Polri, dan orang dalam dari manajemen bandara itu terlibat dalam jaringan tersebut. "Semua kita berantas. Akhirnya, masalah ini diketahui kepala daerah. Kita diundang rapat koordinasi oleh pihak terkait. Saya tegaskan, TNI tidak peduli dengan jaringan, backingan siapa pun. Kalau membuat bandara tidak aman, akan disikat habis," tegasnya. Dalam pertemuan tersebut akhirnya ditemukan solusi, antara lain seluruh travel yang beroperasi di bandara harus didaftar secara resmi dengan membentuk koperasi. Pendaftaran bisa dilakukan hanya dengan menggunakan KTP saja. Hal ini dilakukan agar seluruh anggota mendapatkan kesempatan yang sama. Untung itu bagi-bagi, jangan monopoli. Anggota koperasi secara bergilir mendapatkan penumpang sehingga bisa mendapatkan penghasilan. Usul ini akhirnya diterima. Saat ini kondisi keamanan di BIL sangat kondusif. "Manajemen bandara sudah berjalan normal. Semuanya sudah baru. TNI tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan bandara. Hampir pasti bahwa manajemen yang baru tidak mengetahui bagaimana upaya TNI memberantas premanisme di BIL yang sudah sangat lama berurat akar. Saya mempunyai kewajiban moral untuk menjaga pintu gerbang NTB. Saya bangga akhirnya seperti sekarang ini kondusif," ujarnya. (adv)

Leave a reply