Wiranto: Ancaman Militer Indonesia Hampir tidak Ada

Denpasar(SNC)-Menteri Koordinator Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Jenderal Purnawirawan Wiranto membuka secara resmi Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kesatuan Mahasiswa Hindu Darma Indonesia (KMHDI) di Taman Budaya Art Center Denpasar, Kamis (31/8). Dalam sambutannya, Wiranto mengatakan jika Bali itu tidak pernah bosan dikunjungi. "Saya sering ke Bali tetapi tidak pernah bosan. Kenapa? Karena ada aura spiritual. Karena ada aura spiritual maka selalu ada kedamaian. Di Bali sering menghasilkan kesepakatan-kesepakatan besar tentang dunia," ujarnya di Denpasar, Kamis (31/8). Namun secara umum, kedamaian di Indonesia mulai terusik dengan adanya berbagai ancaman terhadap ideologi Pancasila.

 

Saat ini ada banyak ancaman bagi Indonesia. Ada kesalahan mindset bahwa ancaman itu berasal dari negara lain. "Ini memahami ancaman secara salah. Mungkin karena kita terlalu lama dijajah. Dan ini cocok dibicara di kalangan mahasiswa, karena mahasiswa itu pusat kecerdasan bangsa. Ancaman saat ini berubah total, sudah selaras dengan kemajuan Iptek. Doktrin pertahanan harus terus berubah karena zaman terus berubah. Sekarang tidak ada ancaman tradisional konvensional. Sekarang pertempuran jangka panjang antarnegara itu mahal. Mempertahankan kekuasaan itu mahal. Ada satu ancaman baru yang lebih jahat dan kelihatan saat ini yakni kemajuan Iptek. Makanya negara di dunia ini harus kerja sama. Makanya banyak negara kerja sama secara formalitas. Saat ini satu negara tidak bisa bekerja sendiri, tetapi harus bersama-sama. Di saat itulah banyak negara bersaing, untuk menguasai yang lain," ujarnya.

Ada berbagai sudut persaingan, mulai dari narkoba, terorisme, perdagangan manusia, ilegal logging, ilegal fishing sampai dengan kuliner. "Siapa yang bisa melarang KFC, McD masuk Indonesia. Itu baru kuliner. Belum lagi Narkoba, terorisme, perdagangan manusia, dan seterusnya. Apakah ancaman ini tanggung jawab TNI Polri. Tentu saja tidak bisa. Ancaman sudah bersifat total, maka harus dilawan secara massal. Setelah saya inventarisir, ancaman miiter itu kecil, dan bahkan tidak ada. Saya bekerja di 4 masa pemerintahan mulai dari Soeharto sampai Jokowi. Saya Menko juga 17 tahun lalu. Sekarang jadi Menkopolhukam lagi," ujarnya. Ia mengisahkan, saat dirinya jadi Menko Polkam pertama, pengguna internet hanya 1,9 juta. Sekarang sudah 190 juta. Dulu yang pakai Hp hanya 20 juta orang. Setelah 17 tahun kemudian jadi 250 juta. Ini sangat mengerikan. Makanya harus bekerja sama antarnegara. Saat ini semuanya canggih. Semuanyaa pakai internet, untuk merakit bom juga pakai internet. Latihan merakit bom itu lewat internet. Karena Indonesia masih miskin maka mudah diterima paham tersebut. Makanya banyak bom bunuh diri. "Orang miskin dan pengangguran gampang dipengaruhi. Tinggal diberitahu bahwa kalau mau ingin mobil bisa didapatkan di surga. Asal saja bom bunuh diri. Saya pernah berbalik cuci otak. Kalau mau bom bunuh diri bagus untuk kurangi penduduk, tetapi silahkan dilakukan di lapangan terbuka. Jangan cari sasaran orang lain karena kalau ada orang lain mati karena bom bunuh diri maka yang mati itu yang masuk surga, sementara yang bawa bom masuk neraka," ujarnya.

Di saat yang sama merusak kepatuhan ideologi semakin pudar. Pancasila jadi ideologi tetapi tidak dihayati dan diamalkan. Belum lagi lahir berbagai Ormas radilkal dan intoleran "Teman-teman yang tidak cocok selalu saja mengganggu," ujarnya. Untuk itu perlu dilakukan program bela negara. Pemantapan program bela negara perlu segera diwujudkan. Hal ini penting karena ancaman sekarang bukan dihadapi oleh militer tetapi seluruh rakyat. Seluruh warga negara Indonesia wajib mengantisipasi ancaman itu. Semua orang memiliki kesadaran untuk membela negara ini. Konsepnya berbeda dari setiap elemen bangsa, melalui bidangnya masing-masing.

"Makanya, saya ini pesan tiga hal. Pertama, harus merasa memiliki negeri ini. Kedua, wajib membela negeri yang kita cintai ini. Ketiga, sayangilah Indonesia. Kita makan disini, bekerja disini, hidup disini, dan mungkin juga mati disini. Kenapa kita tidak sayang Indonesia," ujarnya. (Snc02)

Leave a reply