Gubernur Minta Manajemen Stok Pangan Bali Diberlakukan

Denpasar - (SNC) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika meminta agar Bali segera memperbaiki manajemen stok pangan dan tata niaga hasil pertanian segera diatur dalam sebuah sistem yang bagus. Sistem yang ada saat ini sangat tidak efektif dan cenderung menuju kemunduran. Ia menilai Bali sebagai daerah pariwisata dunia harus bisa masuk ke sistem manajemen dan tata niaga pangan yang mendunia, dengan sentuhan teknologi terkini. Untuk itu Pastika mengharapkan ada perbaikan tata niaga produk pertanian di Bali. Ia menilai harga produk pertanian yang ada belum ideal untuk petani sehingga banyak yang tak tertarik untuk menjadi petani. "Karena sistemnya buruk, manajemen stok pangan buruk, tata niaga pertanian belum ada, harga pangan cenderung tidak stabil. Penghasilan petani sedikit, sehingga banyak orang Bali yang tidak mau jadi petani karena uangnya sedikit. Mereka lebih suka bekerja di sektor pariwisata, mudah dapat uang yang banyak. Kalau ini dibiarkan, maka cepat atau lambat pertanian Bali akan hancur, pariwisata budaya akan hancur juga, karena saling keterkaitan antara satu dengan yang lainnya," ujarn di Denpasar, Senin (7/8).

Itulah sebabnya, Pemprov Bali memberikan fasilitas untuk bidang pertanian, tanaman pangan, hortikultura, peternakan agar bisa melakukan banyak hal di bidang tersebut. Bali sebenarnya bisa mandiri di bidang pertanian, peternakan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Namun karena manajemennya jelek, tata niaga pertanian belum jalan, sentuhan teknologi belum ada, maka untuk sementara Bali tergantung dari luar. Padaha sebenarnya Bali bisa melakukan hal tersebut.

Menurut Pastika, permasalahan harga ini terjadi karena produk pertanian di Bali masih tergantung musim. Ketika pasokan melimpah, sementara permintaan tetap mengakibatkan harganya turun. Ia menilai perlu ada penampungan ketika produksi melimpah sehingga harga bisa stabil dan memberi cukup penghasilan untuk petani. “Misalnya Jeruk, kenapa di Bali kita tidak punya perusahaan Jus Jeruk?. Begitu juga Salak kalau musim banyak sekali sehingga harganya rendah. Kenapa kita tidak buat jus salak misalnya yang memenuhi syarat higienisme dan standar,” ujarnya. Ia bahkan berharap petani di Bali bisa seperti di Thailand yang panen tanpa mengenal musim. Untuk itu menjadi tugas instansi terkait untuk membuat desain tata niaga yang bisa mensejahterakan petani.

‪Terkait peresmian kantor baru, Pastika berharap dengan bergabungnya OPD se-rumpun dalam satu lokasi yang sama membuat kinerja di bidang pertanian menjadi lebih efektif dan efisien. Dengan kantor ini, maka di lokasi yang sama ada tiga OPD yakni Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan serta Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali. Namun ia berpesan supaya gedung baru tak membuat pegawai betah berada di kantor. Menurutnya petani ada di ladang, sehingga pegawai harus turun ke lapangan dan melaksanakan tugas-tugasnya di lapangan. Pastika menyampaikan hal ini saat dirinya meresmikan dua gedung baru yang cukup elite untuk pertanian dan peternakan di Jl WR Supratman Denpasar.

‪Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali IB Wisnuardhana mengatakan, gedung baru ini dibangun sejak Juli 2016 dan selesai tepat waktu pada 19 Juli 2017. Selain gedung utama, areal kantor dilengkapi dengan garasi yang bisa digunakan untuk pameran dan pasar tani serta bangunan organic trade center. Selain itu sesuai arahan Gubernur Made Mangku Pastika, kantor ini dilengkapi sarana pembelajaran pertanian dan perkebunan. Masih di areal yang sama, Gubernur Pastika juga meresmikan Organic Trade Center sebagai pusat pemasaran produk pertanian organik di Bali. Gedung yang dikelola Asosiasi Pelaku Usaha Hortikultura (Aspehorti) Provinsi Bali ini juga merupakan gagasan Gubernur Pastika sejak tahun 2009 lalu sebagai bagian dari upaya menjadikan Bali sebagai pulau organik. (SN01)

Leave a reply